Wednesday, November 05, 2008

Fingers Knight Story

Alkisah berkumpullah 5 jawara hebat di Negeri Hand. Kelima jawara tersebut adalah pendekar hebat tak terkalahkan yang selama ini telah berjasa mempertahankan negeri Hand dari serangan musuh. Akan tetapi raja sepertinya ingin memberikan penghargaan kepada pendekar terbaik dari kelima pendekar hebat yang ada. Sehingga akhirnya kelima pendekar itupun diuji kehebatannya dengan diadakan pertarungan secara terbuka.

Setelah seluruh rakyat dan penghuni istana negeri Hand sudah memenuhi lapangan tempat pertarungan kelima jawara terbaik negeri, maka pertarunganpun dimulai. Dan sebelumnya masing-masing pendekar diperintahkan raja untuk memperkenalkan kehebatan masing-masing.

Kesempatan pertama, tampillah Pendekar Jempol (Pendekar Ibu Jari). Dia mengatakan bahwa tidak ada yang lebih hebat darinya. Setiap kali manusia hendak memberikan ungkapan tanda kehebatan seseorang atau sebuah kejadian, maka yang diacungkan oleh tangan adalah Ibu Jari dan bukan jari yang lain. Diapun mengatakan bahwa tanpa dirinya – ibunya para jari – maka tidak akan mungkin ada jari yang lain. Tak lupa Pendekar Jempol juga memamerkan bentuk tubuhnya yang memang kelihatan lebih besar dan berisi dibandingkan jari yang lainnya. Dan setelah menyaksikan kehebatan Pendekar Jempol, maka seluruh pendudukan negeri Hand-pun memberikan tepuk tangan meriah dan mengelu-elukannya sebagai pendekar hebat.

Kemudian pada kesempatan kedua, tampillah Pendekar Telunjuk. Dengan gagah berani dia menunjukkan kehebatannya. Dia mengatakan bahwa setiap pemimpin ketika memerintah bawahannya pasti menggunakan jari telunjuk dan bukan jari lainnya. Dengan acungan jari telunjuk, maka semua bawahan akan menurut. Kemanapun jari telunjuk ini mengarah, kesitulah bawahan mengikuti. Ringkasnya, dibawah kendali Pendekar Telunjuk maka semua orang akan tunduk dan menurut. Tidak ada satupun yang bisa membantahnya. Dan setelah menyaksikan kehebatan Pendekar Telunjuk, maka kembali seluruh penonton memberikan sambutan yang riuh.

Giliran ketiga yang tidak kalah hebatnya adalah Pendekar Tengah. Seketika dia meminta kepada semua pendekar untuk berdiri, dan nyatalah bahwa Pendekar Tengah adalah pendekar tertinggi. Dan dengan jurus berdiri itulah kemudian Pendekar Tengah menjadi tak terkalahkan oleh pendekar yang lainnya. Dan seluruh penonton dibuat kagum oleh kehebatan jurus sang Pendekar Tengah yang menyambutnya dengan tepukan meriah.

Pada giliran keempat tampillah Pendekar Manis. Tak mau kalah dengan penampilan para pendekar sebelumnya, Pendekar Manispun mengeluarkan jurus pamungkasnya. Dia mengatakan bahwa setiap penghargaan hebat dalam bentuk cincin maka tempatnya pasti di jari manis. Cincin kawinpun dipasang di jari manis dan bukan dijari yang lain. Alangkah lucunya kalau ditaruh di jempol. Demikian kehebatan Pendekar Manis dengan jurus cincinnya membuat arena pertarungan semakin bergemuruh, seperti belum ada tanda siapa yang bakalan menjadi pemenang.

Sehingga sampailah pada giliran terakhir yaitu Pendekar kelingking. Ketika maju ke arena – tidak seperti pendekar lain yang langsung mempertontonkan kehebatannya – Pendekar Kelingking terlihat kebingungan. Mungkin dia tidak menyangka akan kehebatan jurus-jurus dari pendekar yang lainnya. Ketika penonton sudah mulai gelisah dan kelihatan brutal, tiba-tiba .... Kalau Pendekar Jempol hebat dengan jurus jempolnya, Pendekar Telunjuk dengan jurus telunjuknya. Kemudian Pendekar Tengah dengan jurus berdirinya dan Pendekar Manis dengan jurus manisnya, maka saksikanlah jurus hebatku. Demikian kata Pendekar Kelingking.

Tiba-tiba Pendekar Kelingking masuk ke hidung sang raja dan bergerak-gerak mengorek-korek hidung sang raja. Dan ketika keluar, Pendekar Kelingking membawa benda hitam yang menempel pada tubuhnya. Dengan bangga Pendekar Kelingking mengatakan, “ Tanpa saya maka hidung sang raja akan kotor dan terus kotor sehingga pada akhirnya raja tidak bisa bernafas. Tidak ada satupun dari pendekar yang lain berani masuk ke hidung sang Raja, apalagi Pendekar Jempol”. Mendengar itu maka seluruh penonton kembali memberikan sambutan meriah. Dan sepertinya keadaan seimbang untuk kelima pendekar yang ada.

Melihat bahwa hingga penampilan terakhir tidak ada yang menang, maka rajapun memberikan satu pertandingan lagi. Dan pertandingan terakhir adalah lomba menyapu lantai. Dan setelah lomba dimulai tidak ada satupun pendekar yang turun ke arena. Mereka cuma bengong dan tidak tahu harus melakukan apa. Setelah masing-masing memikirkan jurus andalannya tetapi tidak juga ketemu, maka akhirnya para pendekar itupun sadar bahwa mereka masing-masing tidak akan mampu menyelesaikan tantangan raja. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan tantangan itu adalah dengan adanya kerjasama diantara kelima pendekar itu dan menanggalkan ego kehebatan masing-masing. Dan tantangan raja itupun terselesaikan sudah.


..............................................................


Cerita ini jelas murni 100% fiktif. Akan tetapi keberadaannya sangat dekat dengan realita kehidupan kita. Tidak lain itu adalah penggambaran dari jari-jari di tangan kita. Kalau ditanyakan, lantas siapakah yang paling hebat ? Maka jawabannya ya jelas nggak ada yang paling hebat. Tetapi mereka akan menjadi jauh lebih hebat apabila ada sinergi yang baik diantara semua elemen jari yang ada.

Sebagai pribadi-pribadi yang utuh dan matang, barangkali masing-masing kita adalah orang yang hebat. Atau bahkan kita merasa paling hebat. Tetapi itu pasti hanya pada satu bagian saja. Sedangkan pada bagian yang lain, tentu saja belum tentu atau bahkan tidak sama sekali. Sehingga bisa jadi kita adalah jawara pada satu bidang atau bagian, tetapi kita menjadi pecundang pada bagian yang lain. Pada bagian yang lain itu ada orang lain yang menjadi jawara.

Ketika para jawara atau orang hebat itu hanya mengandalkan kekuatan dan kelebihannya sendiri-sendiri, maka pada satu kondisi dia tidak akan memberi manfaat sama sekali. Kehebatan dan kejawaraannya baru akan memberikan dampak yang serius ketika ada sinergi dan integrasi dengan kejawaraan orang lain. Sinergi dan integrasi yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah model kejawaraan baru, yaitu kejawaraan kolektif.

Islam mengajarkan kepada kita bahwa " Kebenaran yang tidak terorganisasi (tertata) akan bisa dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi (tertata)".

How About Us ....................



Monday, November 03, 2008

Reality Understanding

Saya sedang mengenakan lagi sepatu setelah selesai melakukan sholat dhuha di mushola fakultas. Sementara itu kami - saya dan teman lain yang berada di beranda mushola - bercanda sedikit yang seperti sudah menjadi rutinitas keseharian kami kalau bertemu. Pagi itupun serasa indah setelah kami melewatinya dengan aktifitas yang kami anggap positif.

Keceriaan pagi itu sontak berubah hening ketika tiba-tiba datang teman kami yang lain dengan berondongan omongannya.

"Mbang, kamu adalah orang yang dzolim. Kamu harus memper tanggungjawabkan semua kekacauan ini dihadapan Allah kelak .... ," yang segera saya potong karena memang terdengar nggak enak.

"Hei, ada apa ini. Duduk yang tenang dan ngomong yang jelas," balasku.

"Kamu orang dzolim. Kenapa para muslimah itu kamu biarkan berkeliaran di kampus ini, sementara orang tua dan keluarga mereka ada di kota yang lain. Kamu sebagai ketua BPPI (Badan Pengkajian dan Pengamalan Islam, semacam rohis di FE UNS) mestinya menyuruh mereka tinggal di rumah-rumah mereka masing-masing. Bukankan Allah menyuruh mereka tinggal di rumah-rumah mereka masing-masing," berondongan itu mengalir dengan deras dan cepat seraya mengacung-acungkan telunjuknya tepat ke arah mukaku, diselingi kutipan-kutipan ayat kitab Al Qur'an yang ditafsiri sekehendak dia.

Teman saya yang satu ini memang belum lama memiliki semangat untuk menata ulang hidupnya sesuai dengan tuntutan kitab suci (Al Qur'an) dan sunnah Rasululloh. Saya sendiri tahu persis bahwa dua semester yang lalu, bacaan Qur'annyapun masih berantakan. Saya tidak tahu apa yng ada dalam pemikiran dan keyakinannya sehingga tiba-tiba dia berubah menjadi seperti hakim yang siap memuntahkan semua fonis hukumnya pada orang lain.

Setelah dia berhenti memberondongku, giliran saya yang bertanya.

"Sekarang gini. Kalau anda nanti menikah, kemudian pada saatnya nanti istri anda hamil. Nah di sekitar anda ada 3 dokter yang bisa menolong persalinan istri anda. Satu dokter laki-laki, satunya lagi dokter wanita non muslim dan yang terakhir dokter wanita muslimah. Nah, kemana anda akan bawa istri anda untuk persalinan ?"

Dengan bangga dia menjawab, " Ya jelas saya bawa ke dokter wanita muslimah. Tidak mungkin aku bawa ke dokter laki-laki apalagi ke dokter non muslim".

"Oh begitu ya. Kalau begitu anda pembohong besar," potongku cepat.

"Anda tidak boleh menuduh saya sebagai pembohong besar," jawabnya penuh emosi.

"Gimana mungkin ada dokter wanita muslimah, kalau tidak ada muslimah yang kuliah. Karena untuk jadi dokter itu harus kuliah di kedokteran, ikut program Co Ass," timpalku lebih lanjut yang menjadikannya tambah bingung.

"Oke, oke. Saya mentoleransi kalau kuliahnya kedokteran. Tapi ini kita di ekonomi. Setelah lulus para muslimah itu akan bekerja di sektor publik. Padahal kewajiban bekerja kan ada pada para suami mereka .." lanjutnya mulai ngawur.

"Nah, kalau gitu ada dalilnya. Firman Allah: Wahai orang-orang beriman, jauhkanlah diri kalian dari berprasangka. Karena sebagian dari prasangka itu adalah kesalahan," sambung saya dengan membacakan ayat Al Qur'an ini dalam teks arab hingga selesai dan mengartikannya.

"Saya yakin anda belum pernah mengadakan survey untuk mengetahui apakah para muslimah itu akan bekerja atau tidak. Sehingga anda nggak boleh memfonis seperti itu," lanjutku kemudian.

"Pokoknya gini. Sebelum ada ayat yang mengatakan bahwa dihalalkan kuliah kedokteran dan diharamkan kuliah ekonomi, maka saya tidak akan mengikuti anjuran anda. Sepertinya anda perlu belajar agama lebih serius lagi," kataku sambil berdiri meninggalkan teman tadi yang mukanya mulai kelihatan memerah. Entah marah atau bingung saya juga tidak tahu.

Saturday, November 01, 2008

Just Answer It



Pada beberapa moment kehidupan yang saya jalani, sering muncul beberapa persoalan-persoalan dan pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik. Sebagiannya sangat menggelitik dan dibutuhkan jawaban dengan memutar otak lebih keras. Sebagiannya yang lain – entah bagaimana awalnya – Allah memberikan kemudahan untuk menjawabnya dengan baik.

1. Pekerjaan Tetap

Ketika hendak melamar wanita yang sekarang menjadi istri saya, calon mertua (camer) menanyakan satu hal setelah pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Camer : apa kamu sudah punya perkerjaan tetap .....

Saya : kalau pekerjaan tetap sih belum, tetapi saya tetap bekerja .....

Setelah menikah, istri saya bilang bahwa bapak (mertua saya) sangat kaget dengan jawaban saya waktu melamar. Bapak tidak menyangka dengan jawaban saya yang singkat, ceplas-ceplos dan berani tanpa pikir panjang.

Tetapi – masih kata istri – justru karena jawaban cepat dan berani itulah akhirnya bapak mantap menerima lamaran saya. Baginya, anaknya akan aman ditangan orang yang berani ambil resiko.


2. Gaji Pokok

Sewaktu menjadi Manager HRD di sebuah Sekolah Islam International di Jakarta dan diadakan sosialisasi tentang sistem kepegawaian, pada saat pembahasan tentang penggajian, ada karyawan yang bertanya :

Karyawan : Tadi bapak menjelaskan tentang komponen gaji. Kok komponen gaji pokok satuannya kecil dibanding total gaji. Memang gaji pokok itu apa sih pak ......

Saya : Gaji pokok itu yaa ..... pokoknya gaji. Ya gaji sekedarnya saja. Jadi ya ... kecil. Kalau ditambahin dengan tunjangan-tunjangan ya jadi besar. Gimana ...

Karyawan : Ohhhhhh .....

Setelah itu saya lihat karyawan tersebut menggaruk-garuk kepalanya berkali-kali. Saya tidak tahu persis apa yang ada dalam pikirannya.


3. Karyawan Tetap

Masih sewaktu menjadi Manager HRD, seorang karyawan baru bertanya :

Karyawan : Pak, untuk menjadi karyawan tetap syaratnya apa sih ...

Saya : Anda sudah bekerja minimal 2 tahun dan mendapatkan penilaian kerja yang baik. Memangnya ada apa ... Anda kan karyawan baru ...

Karyawan : Enggak kok pak. Tadi saya dengar kalau menjadi karyawan tetap itu akan mendapat banyak fasilitas.

Saya : Gini. Anda kepingin jadi karyawan tetap atau tetap karyawan ....

Karyawan : Emang bedanya apa Pak ...

Saya : Kalau karyawan tetap itu ya, anda kerja terus di sini. Kalau tetap karyawan ya, anda selamanya jadi karyawan walaupun tidak kerja disini.

Karyawan : Terus baikan yang mana ...

Saya : Kalau bisa jangan jadi keduanya. Enakan jadi bos.


4. Penghasilan Tetap

Dalam sebuah sesi seminar tentang Membangun Jiwa Entrepreneurship, saya melontarkan sebuah pertanyaan ice breaking.

Saya : Ibu-2, anda lebih suka pada suami yang punya penghasilan tetap atau tetap berpenghasilan ...

Ibu-2 : Ya jelas yang punya penghasilan tetap. Jadi ngatur pengeluarannya kan enak ...

Saya : Walaupun penghasilannya tetap kecil ...

Ibu-2 : (pada bengong dan sebagian ribut sendiri)

Saya : Tentu anda semua lebih suka yang tetap besar kan. Nah wirausahalah jalannya.


5. Kader Inti

Ketika diminta menjelaskan hirarki keanggotaan di sebuah partai politik – dimana dibedakan untuk mempermudah proses pembinaan kaderisasinya – seorang peserta bertanya dengan lugasnya.

Peserta : Tadi dijelaskan tentang adanya kader pendukung dan kader inti. Yang dimaksud dengan kader inti itu apa sih .....

Saya : Kader inti itu ya .... intinya kader.

Peserta : Maksudnya ...

Saya : Kalau kader pendukung sifatnya cuma mendukung, maka kader inti harus jadi penggerak utama roda organisasi. Jadi ya itu tadi, intinya kader.

Peserta : Oh .....


6. Konflik Ambon.

Saya diundang oleh teman-2 HMI Komisariat UNS untuk menjadi salah satu pemrasaran pada acara diskusi tentang konflik Ambon ketika berkecamuknya konflik horizontal di Ambon.

Tiba-tiba ada seorang peserta diskusi yang dengan sangat semangatnya mencecar dan membantai saya dengan argumentasinya.

Peserta : Semestinya kaum muslimin di sana tidak perlu menyerang balik, karena justru akan menimbulkan perang berkepanjangan tanpa henti. Muslim harus mengedepankan perdamaian sebagai perwujudan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin ...

Saya : (Sambil menatap tajam wajah si penanya, saya lempar dia dengan spidol yang saat itu saya pegang)

Peserta : (Setelah berusaha menangkis sekenanya) Kok anda marah begitu. Saya kan bertanya, jawab dong yang benar, bukannya anda marah begitu.

Saya : Mas, lemparan saya yang anda tangkis itu sakit nggak rasanya ...

Peserta : Ya enggak sih ... tetapi nggak benar anda lempar saya begitu ...

Saya : Seandainya mas tidak menangkis lemparan saya, kira-kira kalau spidol itu mengenai badan mas, sakit nggak rasanya ...

Peserta : Ya enggak juga, tetapi kenapa saya harus dilempar begitu ...

Saya : Gini mas. Anda tahu kalau dilempar spidol begitu tidak akan menimbulkan rasa sakit. Tetapi anda melakukan perlawanan begitu gigihnya. Anda marah-marah dan bahkan kalau tidak ditahan teman-teman yang lain, anda mungkin akan melawan saya.

Peserta : Habis anda kurang ajar, pakai lempar spidol segala ke saya. Emang saya salah apa. Orang cuma nanya ...

Saya : Sekarang bayangkan mas di Ambon. Di Ambon itu yang ada adalah pertaruhan hidup dan mati. Kalau tidak menyerang maka diserang, kalau tidak mempertahankan diri maka dibantai. Kalau tidak melawan, maka dihabisi.

Jadi kalau mas yang yakin lemparan saya tidak akan menyakiti tetapi begitu gigihnya mas melawan saya, begitulah yang terjadi dengan kaum muslim di Ambon. Tidak ada pilihan lain ...

Jadi Mas jangan berwacana saja yang berlawanan dengan realita yang mas tunjukkan sendiri baru saja ...

Peserta : (bengong tertunduk lesu) ......


Wait for next episode ...