Thursday, December 04, 2008

Bombana, The New Dreamland

Pada 20 November lalu, saya mendapatkan kesempatan melakukan perjalanan ke Kabupaten Kolaka Utara, sekitar 300 km barat laut dari Kendari ibu kota Sulawesi Tenggara.

Insrastruktur jalan yang kurang baik di beberapa ruas jalan Trans Sulawesi antara Kendari dan Kolaka Utara, serta medan berat berbukit banyak jurang berbibirkan pantai terjal bagian barat Sultra dan berliku menjadikan jarak yang kalau di pulau Jawa bisa ditempuh dalam 5 jam itu harus kami tempuh lebih dari 8 jam.


Seorang teman yang menemani perjalanan ini – Pak Dani namanya – menceritakan banyak hal tentang Sulawesi Tenggara kepada saya, mengingat ini adalah perjalanan pertama saya ke wilayah Sultra.


Menurutnya, akhir-akhir ini ada fenomena menarik yang terjadi di Sulawesi Tenggara. Fenomena itu adalah adanya eksodus besar-besaran masyarakat Sultra ke Kabupaten Bombana. Berpuluh bahkan beratus-ratus ribu orang-orang berbondong meninggalkan tempat tinggal dan pekerjaannya pergi menuju tanah impian baru yaitu Bombana.


Pa Dani menceritakan bahwa banyak pabrik-pabrik yang mulai resah karena ditinggal pergi oleh karyawannya menuju Bombana. Bahkan pegawai-pegawai dengan status honorerpun memilih pergi ke Bombana. Konon tidak sedikit juga para abdi negara (PNS) yang memilih cuti demi untuk ikut eksodus ke Bombana.


.....................................................


Ceritanya berawal dari adanya sebuah keluarga di Bombana yang dalam waktu sangat singkat tiba-tiba berubah menjadi sangat kaya, padahal sebelumnya mereka adalah keluarga yang miskin.


Konon mereka adalah pendatang yang sebelumnya tinggal di Timika, dekat penambangan emas Freeport. Setelah tinggal di Bombana, mereka merasa bahwa jenis tanah di Bombana sama dengan dengan tanah di Freeport. Melihat kesamaan alam Bombana dengan Freeport, maka mereka juga yakin bahwa di Bombana ini juga mengandung emas seperti juga di Freeport.


Mulailah kepala keluarga ini masuk ke hutan. Mulailah dia menggali, kemudian mendulangnya di sungai. Dan ternyata benar bayangan mereka, mereka mendapatkan biji-biji emas. Dan akhirnya setiap hari mereka keluar masuk hutan untuk mendulang emas, tetapi apa yang mereka lakukan tidak diketahui oleh masyarakat Bombana yang lainnya.


Dalam waktu sekejap kehidupan pendatang inipun berubah. Rumah mereka diperbaiki sehingga tampak mewah. Mereka membeli mobil dan sejumlah perabot mewah lainnya. Tentu saja perubahan drastis ini memunculkan kecurigaan pada para tetangganya dan memunculkan rasa ingin tahu.


.............................................................


Agaknya ada sebagian tetangganya yang mulai mengamati aktivitas mereka. Ketika hendak masuk hutan untuk mendulang emas, beberapa tetangganyapun mulai mengikuti tanpa sepengetahuan mereka. Sehingga akhirnya para tetangga itupun bisa memahami bagaimana mereka bisa mendapatkan kekayaan, yaitu dengan mendulang emas di hutan.


Setelah itu cerita tentang Bombana yang menyimpan deposit emas besar cepat menyebar ke seantero penjuru Sulawesi, terlebih khusus ke kabupaten lain di propinsi Sulawesi Tenggara. Dan bisa ditebak cerita selanjutnya, ratusan ribu orang berhamburan pergi ke Bombana untuk berburu biji emas.


.................................................................


Eksodus ini mencapai puncaknya pada Ramadhan 1429 lalu tepatnya di bulan September 2008. Barangkali karena didesak oleh pemenuhan kebutuhan lebaran, puluhan ribu orang datang ke Bombana.


Banyak sekali cerita sukses menyertai hiruk pikuk di Bombana. Ada yang dalam 10 hari bisa mendapatkan 20 gr biji emas. 1 gram dijual dengan harga sekitar Rp. 200.000,- an mengingat kualitas emas Bombana yang sangat baik. Sehingga dalam 1 bulan bisa mengantosi sekitar 10jutaan, jauh lebih banyak daripada hanya menjadi buruh dengan gaji 2jutaan dalam sebulan.


Tetapi tidak sedikit juga cerita kelam berbuntut kematian. Berjubelnya orang yang mendulang emas melahirkan tensi emosi tinggi yang sering tidak terkendali. Hanya karena tersenggol oleh pendulang lainnya yang mengakibatkan jatuhnya butiran biji emas yang didapat, seorang pendulang memilih untuk berkelahi yang berujung pada kematian.


Ada juga karena begitu bersemangat dan bernafsunya menggali dan mendulang, mereka tidak peduli lagi dengan keselamatan diri. Pada suatu siang beberapa orang yang menggali hingga ke kedalaman tanah sudah tidak peduli lagi dengan kekuatan struktur tanahnya. Ketika asyik menggali, tiba-tiba galian itupun runtuh dan mengubur beberapa penambang yang ada dibawahnya.


Cerita lain yang tidak kalah serunya adalah melambungnya harga wajan atau alat penggorengan. Wajan yang biasanya dijual dengan harga 50 ribuan rupiah, sekarang melambung menjadi 200 ribuan. Itu semua terjadi karena para pendulang menjadikan wajan sebagai alat untuk mendulang dan memisahkan butiran tanah dengan biji besi. Bisa ditebak, wajan menjadi barang paling dicari orang Sultra saat ini.


Dan mengingat bahwa eksodus besar-besaran ke Bombana ini mulai tidak beraturan, Pemkab Bombanapun akhirnya menerapkan beberapa peraturan daerah. Setiap orang yang masuk ke Bombana untuk mendulang emas harus memiliki surat ijin semacam SIM, tentunya dengan membayar sejumlah rupiah. Ini tentu bisa menjadi pendapatan daerah untuk kemajuan Bombana.


Bersambung ....


Friday, November 14, 2008

I Just Wanna Say I Love You

Seorang teman dengan ekspresi sangat tertekan memendam keterpaksaan akhirnya membuka cerita pedihnya.


“Istri saya sekarang tidak sama dengan yang dulu,” ucapnya pelan memulai pembicaraan.


“Apanya yang tidak sama ?” tanyaku mencoba mengerti lebih jauh.


“Sekarang dia liar. Suka membantah kata-kataku. Sedikit ada perbedaan maka dia marah dan berani membentak. Kalau pergi keluar rumah sering nggak kenal waktu, terkadang jam 9 malam baru pulang. Kalau ditanya dari mana, bawaannya pasti marah-marah,” lanjutnya.


“Tidak jarang kudapati dia marah-marah terus dengan anak-anak tanpa kupahami penyebabnya. Pokoknya kacau dia sekarang,”lanjutnya lagi.


Bisa ditebak, teman yang satu ini membuka peluang perceraian di akhir curhatnya. Baginya itu solusi terbaik mengingat usahanya selama ini untuk mempertahankan biduk rumah tangga dirasakannya sia-sia belaka.


“Sudahlah, kamu pulang dulu ke rumah. Temui anak-anakmu. Kalau kamu ingin cerai boleh saja, tapi jangan sekarang. Nanti aja kalau sudah tenang,” imbuhku sambil menepuk-nepuk pundaknya mencoba menenangkan.


“Besok kalau ada masalah lagi, boleh datang ke sini lagi,” sambungku lagi.


..............................................................


Seminggu berikutnya ......


“Tamat sudah pernikahanku, diapun minta cerai dariku”, ceritanya dengan luapan emosi yang tertahan. Setelah itu diapun terdiam, lama.


“Kamu benar mau bercerai ? kalau ya, ya sudah aku bantu ngurus perceraian,” timpalku memecah keheningan.


Seketika wajahnya terangkat. Pandangannya kosong. Mukanya memerah dan dahinya mengernyit menyiratkan keheranan yang sangat.


“Kok kamu malah mau bantu ngurus perceraian sih ...?”tanyanya kemudian.


“Kan kamu sendiri yang bilang mau cerai. Sebenernya kepengin cerai nggak sih ?”tanyaku lagi.


“Dari lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya nggak pengin. Tapi kelakuannya itu loh yang nggak bisa ditoleransi,”tambahnya lagi.


“Tapi mau bercerai nggak nih jadinya,”tanyaku lagi.


Setelah merenung panjang akhirnya diapun menjawab dengan terbata-bata,”beneran, saya nggak ingin cerai. Walaupun bayangan untuk bercerai selalu hadir menghantuiku,” akunya lagi.


“Kalau memang nggak ingin bercerai maka aku juga mau bantu supaya kamu nggak jadi cerai. Mau nggak?”tanyaku memojokkan yang segera dijawabnya dengan anggukan kepala lesu.


“Kalau gitu tolong jawab pertanyaanku baik-baik,”pintaku lagi.


“Dalam 10 tahun perkawinanmu, sejak kapan kamu merasa ada yang salah dengan pernikahanmu,”tanyaku. “Sejak 2 tahun yang lalu, tepatnya setelah istri saya kerja kantoran,” jawabnya cepat.


“Apa yang membuat kamu berpikir bahwa ada masalah dengan perkawinanmu,”tanyaku lagi.


“Ya itu tadi, istriku mulai bermasalah,”tambahnya.


“Apa saja perilakunya yang kamu anggap bermasalah sampai kamu berpikir untuk bercerai,”tanyaku mencoba menggali lebih dalam lagi.


“Ya seperti yang saya sebutkan tadi. Dan sebenarnya masih banyak lagi yang lain. Tapi sudahlah, disebutin juga Cuma bikin hati lebih ndongkol,” jawabnya cepat.


“Dan dua tahun terakhir ini kamu selalu mengingat-ingat perilaku “buruk” istrimu itu ?”tanyaku.


“Tentu lah, karena saya yang merasakan langsung akibatnya,” jawabnya.


“Ok. Tadi kamu bilang dari 10 tahun pernikahan, baru 2 tahun belakangan yang terasa kaya di neraka. Berarti sebelumnya baik-baik saja dan bahagia dong,” lanjutku.


Tiba-tiba raut muka teman itu berubah. Wajahnya sedikit memancarkan keceriaan dan sunggingan senyumnya mengekspresikan kebahagian yang mungkin selama ini dirasakannya telah hilang. “Ya, sebelumnya kami hidup bahagia mesti banyak kekurangan. Ingin rasanya merasakan kembali masa bahagia itu...” demikian lanjutnya lagi.


“Kamu ingin merasakan kebahagiaan itu lagi ... “kejarku menegaskan.


“Ya. Saya sungguh merindukan masa-masa bahagia itu,” sambungnya lagi.


“Boleh tahu kapan waktu yang paling membahagiaan dalam rentang waktu pernikahanmu,” tanyaku.


Seperti mencoba mengingat kembali perjalanan perkawinannya, diapun terdiam sejenak. “Sekitar masa 1 tahun pertama pernikahan. Itulah yang saya pikir waktu paling membahagiakan kami,”jawabnya lagi.


“Baik. Kamu masih ingat, apa saja yang kalian lakukan pada masa satu tahun pertama sehingga kamu merasa itu adalah masa pernikahan paling membahagiakan,” tambahku.


Tanpa pikir panjang maka diapun menceritakan detail peristiwanya satu persatu. Tidak ada lagi ekspresi tertekan dan stress. Kini ekspresi kebahagiaan benar-benar telah menggantikannya. Berkali-kali dia tertawa lepas. Sementara saya mencoba mendengarkan dengan baik semua ceritanya.


Setelah selesai menceritakan episode perkawinan yang paling membahagiakan, akupun mengatakan. “Nah sekarang pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, tolong, apapun yang dilakukan oleh istrimu jangan dipikirkan. Kalau kamu merasa nggak kuat dan mau marah, segera tinggalkan istri anda dan cari tempat yang tenang. Mulai sekarang, jangan fikirkan hal-hal yang jelek dari istri kamu. Tapi pikirkanlah masa-masa bahagiamu itu. Ingatlah keadaan istri pada saat itu. Terus pikirkan masa bahagia itu. Oke ?” demikian saranku mengakhiri sesi curhat malam itu yang dijawab dengan anggukan mantap dan tidak lupa, senyum yang mengembang.


..................................................................


Tanpa sepengetahuan teman tadi, sang istripun datang kepada saya dan menguraikan masalah rumahtangganya yang dikatakannya berantakan dari sudut pandangnya. Kepadanya juga saya tanyakan dan saya sampaikan apa-apa saja sama persis dengan apa yang saya katakan kepada suaminya. Supaya dia lebih mengingat masa-masa bahaia dengan suaminya dan mengingat kebikan-kebaikan suaminya yang dulu membuatnya sangat berbahagia.


..................................................................


Seminggu, dua minggu saya menunggu tetapi teman itu tidak kunjung datang. Berbeda dengan waktu sebelumnya yang hampir tiap 3 hari sekali datang dan menumpahkan begitu saja perasaannya kepadaku.


Ketika kedatangannya lagi sudah tidak ada dalam agenda saya, secara tiba-tiba teman itu muncul. Hal yang paling membuat aku bahagia adalah bahwa dia datang dengan istrinya yang selama ini sering disebutnya liar.


Saya mencoba melihat kalender dan, ya. Sudah 4 bulan mereka nggak dateng. Tapi sekarang ....


“Sepulang dari sini sekitar 4 bulan yang lalu, aku benar-benar mencoba melakukan apa yang kamu katakan,” demikian teman itu membuka pembicaraan.


“Berkali-kali istriku memancing emosiku, membuatku jengkel, mengata-ngataiku dengan umpatan yang keji. Tingkahnya semakin liar ...” lanjutnya yang diikuti dengan senyuman kecil istrinya yang duduk di sampingnya. Setelah santai iapun melanjutkan.


“Tapi seperti nasihatmu, aku nggak pikirin itu semua. Yang aku pikirkan tentang istriku adalah kebaikan-kebaikannya dulu yang menjadikanku bahagia. Makanya segala perilakunya yang menjengkelkan aku diamkan saja. Bahkan sebagiannya aku balas dengan senyuman,” sambungnya sambil sesekali melemparkan pandangannya ke arah istrinya.


“Sekali dua kali itu berjalan. Istri tetap dengan perangai awalnya. Sampai akhirnya keajaiban itu terjadi. Sebulan yang lalu, bayangan istriku yang aku miliki saat masa-masa bahagia dulu tiba-tiba muncul.”


“Kata-kata umpatannya berganti dengan sapaan menyejukkan, tuduhan-tuduhan kejinya berganti menjadi ungkapan maaf penuh cinta, tatapan kemarahannya berubah menjadi tatapan penuh kasih ... ,” dia terhenti sejenak. Disekanya butiran air mata yang mulai berlinang.


“Dalam hati ini, aku bergumam bahwa istriku telah kembali ..” lanjutnya.


Tiba-tiba istrinyapun menimpali,” Sepulang dari sini, aku mencoba mengikuti saran-saran anda. Tapi itu terasa sangat sulit. Setiap kali mencoba mengingat kebaikan suami, yang terlintas dikepalaku kemudian adalah sikap arogan dan diktatornya. Jadilah perilaku apa yang dikatakan suami sebagai “liar” selalu muncul dan muncul lagi.”


“Entah berapa kali saya seperti kesurupan, melampiaskan nafsu kemarahan tanpa kenal waktu. Sampai pada akhirnya saya menyadari bahwa ada yang berubah dengan suami saya. Sudah beberapa bulan saya perhatikan tidak ada perlawanan darinya. Sehingga lama-lama saya malu juga ketika sadar bahwa saya ngcau sendirian.”


“Penasaran akan keadaan itu, maka akupun memberanikan diri untuk bertanya pada suami. Dan dia ceritakan semua kembali masa-masa indah dulu. Kami saling bercerita tentang kebaikan satu sama lainnya. Sehingga pada akhirnya, kami lebih tertarik untuk menghiasi hari-hari kami dengan kebaikan dan kelebihan pasangan,” ceritanya penuh haru.


“Dan hari ini tidak ada lagi alternatif pilihan cerai. Kami telah hapus pilihan itu. Dan atas semuanya, kami ucapkan terima kasih atas sarannya,” ucap sang suami diiringi jabat tangat erat dan peluk hangat penuh rasa cinta.


......................................................................


Kita sering obral kata-kata cinta. Akan tetapi cinta memang harus diungkapkan. Cinta memang harus dinyatakan. Cinta tanpa torehan kata, maka akan menjadi tak berbalas. Cinta tanpa ungkapan lisan, maka akan berujung kegalauan. Bahkan sebagian besar kaum wanita akan menjadi berbunga-bunga hatinya saat mendapatkan ungkapan kata CINTA dari orang yang dikasihinya.


Akan tetapi, kata saja tidaklah cukup. Seringkali lisan berucap cinta, tapi tangan berkata sebaliknya. Walaupun tetap dalam bungkusan ungkapan cinta.


Berapa banyak suami yang “atas nama cinta” menjadi seperti diktator yang mengatur tanpa kompromi semua detail kehidupan istrinya. Yang dengan perilaku “atas nama cinta” itu sang istri menjadi terluka.


Tidak sedikit para bapak yang “atas nama cinta” kemudian membungkam kreatifitas anaknya atas nama kehidupan yang disiplin dan penuh keteraturan. Yang dengan perilaku “atas nama cinta” itu sang anak menjadi tersakiti.


Adakah cinta sejati kan berujung luka yang menganga serta menyakiti jiwa dan raga orang-orang yang dikasihi. Ataukah cinta kan menutup luka dan membangkitkan jiwa-jiwa yang bahagia ?


Sepertinya ungkapan kata dan semburat pikiran cinta itu tidak boleh berhenti disitu. Ianya harus segera berujud pada rasa penuh cinta dan raga penuh cinta.


Segenap perasaan kita terhadap orang-orang yang kita kasihi harus mengekspresikan dominasi cinta. Raga kita juga harus menjadi penterjemah paling fasih terhadap kata cinta.


Tanpa keikutsertaan segenap perasaan dan peran total jasad ragawi kita, maka ungkapan dan pikiran cinta itu tidak akan membuahkan hasilnya. Ia hanya akan sebatas jargon tanpa makna, sebatas asa tanpa hasil, sebatas slogan tanpa realita.


Cinta hanya akan menemukan maknanya ketika segenap perasaan kita terhadap orang-orang yang kita cintai selalu didominasi oleh cinta, dan raga membenarkannya dengan perilaku yang berjalan diatas kamus cinta. Sekedar kata dan asa, cinta akan kehilangan jiwanya.


Dan kedua suami istri diatas telah menemukan kembali cintanya yang hilang.

Wallahu a’lam bishowab.

Let Us Confirm

Aku menjadi semakin salah tingkah. Teman-teman yang biasanya memberi sambutan hangat setiap kami ketemu, tiba-tiba memperlihatkan perilaku yang aneh. Tatapan mereka penuh curiga, senyum mereka penuh makna kesinisan. Jabat tangan mereka hambar tanpa kehangatan.

“Ada apa ya dengan mereka,” demikian gumamku kebingungan. Sambil berjalan menuju kelas, sesekali kulihat mereka mencuri-curi kesempatan menggunjingkan sesuatu di belakangku.


“Atau jangan-jangan ada yang keliru dengan aku. Tapi apa ya .... ,” tanyaku pada diri sendiri sambil kugaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.


Hingga menjelang bel pulang sekolah berbunyi tidak ada satupun dari mereka – teman-teman akrabku – yang ngomong ada masalah apa denganku. Aku menjadi semakin salah tingkah karena perubahan sikap teman-teman yang sangat drastis.


.........................................................................


Sikap teman-teman sungguh membuatku tertekan, stress. Kalau saja aku tahu apa masalahnya, mungkin aku bisa menyelesaikannya. Tapi mereka memilih diam, seperti aku bukan lagi bagian dari mereka.


Padahal satu setengah tahun terakhir adalah masa-masa terindah dalam usia remajaku. Aku dipertemukan dengan teman-teman SMA yang diusia remajanya yang penuh gelora justru lebih memilih untuk menjaga diri dari semua yang berpotensi merusak.


Kami menjadi seperti tak terpisahkan. Setiap pertemuan kami hiasi dengan jabat tangan yang erat dan hangat. Tak pernah ketinggalan peluk erat ukhuwah mewarnai setiap perjumpaan dan perpisahan kami. Doa kebaikan untuk teman yang lain tidak pernah kami lewatkan dalam setiap sholat kami.


Rona wajah kami lebih ddidominasi ekspresi keceriaan dan optimisme. Senyum renyah yang tersungging adalah konsumsi harian bibir kami. Dan tutur kata santun penuh nilai adalah bahasa keseharian pergaulan kami.


............................................................................


Tiba-tiba aku tersadar. Itu semua adalah lamunan indah masa lalu yang telah usai. Sekedar membayangkan saja keindahan masa lalu kemudian membandingkannya begitu saja dengan keadaan sekarang juga bukanlah sikap yang bijak, karena justru akan menjadikan hati dan fikiran ini sakit.


“Aku harus mengembalikan masa-masa indah itu,” demikian anganku memecah lamunan. “Aku harus cari tahu ada masalah apa denganku, untuk kemudian sebisa mungkin kuperbaiki agar keindahan ukhuwah yang selama ini kurasakan bisa hadir kembali,” ucapku dalam hati untuk memperkuat keyakinan.


............................................................................


Kulihat Ali – temanku di Rohis SMA – sudah selesai melakukan sholat dhuha. Setelah beberapa doa dibacakan, kuberanikan diri untuk mendekati Ali. Awalnya dia seperti hendak menghindar, tetapi akhirnya mau menerima kehadiranku.


“Akh Ali, sebenarnya ada apa sih dengan aku ?” tanyaku langsung tanpa harus merinci maksudnya karena aku yakin dia sudah paham.


“Antum berbuat maksiat, dan teman-teman benci melihat antum ,” sambarnya tanpa ekspresi.


“Hah ... aku bermaksiat .... ?” tanyaku kaget. Masih dengan kekagetan, akupun mencoba mengklarifikasi masalahnya. “Ya, tapi maksiat apa. Tolong dong bilang ?”


“Antum berpacaran dengan seorang akhwat. Akh Joko melihat antum boncengan naik motor malam Rabu kemarin jam 11 malam di Jl. Sultan Agung ? sambung Ali melanjutkan.


“Akh Joko menyampaikan itu pada kami semua ..,” sambungnya lagi. Dan aku hanya bisa menghela nafas panjang mendengarkan cerita Ali.


.........................................................................


Sabtu siang itu ruang mushola sekolah sudah penuh sesak. Teman-teman Rohis sepertinya sudah tidak sabar untuk mendengarkan jawaban dari aku tentang tuduhan pacaran itu.


“Malam itu ada seorang ibu muda mendapati anaknya yang baru berusia 4 bulan sakit. Panas badannya sangat tinggi, mukanya membiru dan tubuhnya kejang-kejang. Sementara suaminya sedang di luar kota,” ceritaku sambil menahan nafas panjang.


“Aku yang tahu akan kondisi yang darurat itu tidak mungkin membiarkan saja. Aku ambil sepeda motorku. Kuboncengkan ibu muda itu dan anaknya untuk kubawa ke rumah sakit,” sejenak kemudian aku terdiam.


“Terus gimana dengan anak itu. Apa dia tertolong ?” tanya teman-teman penuh semangat.


“Alhamdulillah, Allah masih memberikan pertolongan. Kata dokter, telat 30 menit saja keadaan bisa fatal ...,” sambungku sambil tak terasa mataku mulai berkaca-kaca.


“Dan antum semua tahu, siapa ibu muda itu ?”tanyaku. “Ibu muda itu adalah kakakku sendiri.”


Dan teman-temanpun berhamburan mendekatiku memohon maaf. Peluk dan linangan air mata haru mewarnai Sabtu siang itu.


....................................................................


Seringkali karena kebencian kita pada suatu kaum menjadikan kita tidak bisa berbuat adil pada kaum tersebut. Walaupun mulut kita mengatakannya sebagai ekspresi rasa cinta.


Kita menjadi mudah menjatuhkan pilihan untuk bersikap “mendzolimi” orang lain tanpa sebelumnya didahului pemikiran panjang. Kesimpulan-kesimpulan yang terbangun dari asumsi-asumsi sepihak seringkali lebih mendominasi daripada upaya untuk mencari kebenaran yang sebenarnya.


Seandainya dalam banyak hal kita juga mau mendengarkan, melihat dan memahami sekumpulan fakta dari sudut yang berbeda, sungguh fenomena “penzholiman” itu semestinya bisa terhindarkan. Sungguh penilaian sepihak yang terkadang banyak salahnya itu tidak akan menjadi budaya.


Membudayakan Possitive Thinking dan Possitive Feeling (Khusnudzdzon) – dan itu adalah syariat Islam – dengan membuat seribu satu sudut pandang untuk menafikan penilaian awal yang negatif terhadap saudara kita, adalah suatu keharusan. Tidak bisa tidak ini harus dibudayakan. Budaya ini perlu ditumbuhkan untuk mereduksi adanya kemungkinan masuknya kepentingan orang-orang yang menghendaki hancurkan ukhuwah dan persatuan yang erat diantara sesama saudara.


Kalaupun toh belum ketemu juga sisi positifnya setelah seribu satu sudut pandang digelar, maka hal paling bijak setelah itu adalah dengan melakukan konfirmasi (tabayyun) langsung dari sumber beritanya.


Seorang teman mengatakan bahwa kalaupun dikonfirmasi maka tidak merubah apapun. Orangnya susah dikonfirmasi. Dan kami sudah yakin bahwa informasinya valid karena keluar dari orang yang dipercaya.


Masalahnya adalah, tabayyun hanya akan bisa dilakukan dengan baik oleh orang-orang yang mengawali segalanya dengan semangat khusnudzdzon. Tabayyun adalah mediasi untuk mencari kebenaran berita serta fakta, dan bukan mencari pengakuan dosa dari sumber berita. Karena mencari pengakuan dosa lebih dilandasi oleh prasangka buruk. Dan Prasangka buruk lebih dekat pada kesalahan, pada pendzoliman.


Pikiran dan hati yang positif akan membuka kanal-kanal tabayyun. Komparasi informasi dan fakta yang dilandasi oleh niatan dan perilaku baik, pada akhirnya insya Allah akan melahirkan hasil akhir yang baik.


Saat tabayyun – yang dilandasi oleh pikiran dan hati yang positif – terjadi, maka siap-siaplah untuk mendapatkan kebenaran yang sebenarnya. Bukan mendapati diri kita sebagai pemenang yang berarti mendominasi arena kebenaran, serta mendapati orang lain sebagai orang kalah dan itu berarti dia adalah pihak yang paling bersalah.


Ya, mari mengedepankan Khusnudzdzon dan Tabayyun untuk setiap persoalan yang menimpa saudara kita.


Wallahu a’lam